Museum Dapur Roekijah Jawa Kenalkan Jatidiri Jawa Lewat DapurOpenMadiun – Lokal Madiun
Hampir tidak ada yang tahu bahwa dijalur utama Magetan – Surabaya, terdapat sebuah museum. Museum yang bertajuk Museum Dapoer Roekijah Jawa beralamat Jalan Raya 44 Maospati Magetan  ini dapat ditempuh sekitar 15 menit dari pusat kota Madiun. Tempat ini sengaja didirikan Heri Ristiawanto atas dasar  prihatin akan punahnya peralatan memasak tradisional peninggalan leluhur bangsa ini. Museum swadaya swakelola ini bertujuan untuk melestarikan sekaligus mengenalkan pada generasi muda tentang budaya dan jati diri orang jawa melalui dapur.

“ Peralatan dapur tradisional nenek moyang kita bisa dibilang komplek dibanding bangsa lain. Berbagai jenis alat dengan fungsi yang berbeda.” Tuturnya sambil memperlihatkan alat dari bahan ‘Bathok Kelapa’. “Ini namanya ‘Siwur’, jenisnya bermacam-macam dengan kegunaan berbeda,” jelasnya saat dikunjungi oleh Komunitas Museum Sahabat Kita Madiun.

 

Peralatan yang sangat sederhana itu, menurutnya, didapat dari daerah Jawa Barat yang dibuat tahun 1950-an. Heri juga memamerkan tempat air minum yang unik. Wadah air minum ini terbuat dari buah Labu yang telah dikeringkan.
Saat ditanya mengapa museum yang didirikannya bernama museum dapur, dia menjelaskan bahwa melalui dapur pun, generasi muda bisa mempelajari identitas nenek moyangnya di tengah maraknya serbuan alat dapur modern belakangan ini. “ Nama Museum yakni Roekijah, diambil dari nama mantan istri lurah tahun 1970-an, masih menyimpan banyak alat dapur tempo dulu di rumahnya.” Imbuhnya.

Heri  juga memamerkan sebuah batu yang menurutnya, batu yang disebut ‘Binatu’ itu punya sejarah berdirinya suatu desa di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. “Batu ini dulu dipergunakan untuk menyetrika baju para Akuwu (Kepala Desa) yang terbuat dari kulit kayu. Batu dijemur di bawah terik matahari sebelum digunakannya,” terangnya

 


Museum yang didirikan dengan akta no: 073, tanggal 27 Agustus 2012 ini, sebelum berdirinya secara resmi, sudah banyak para turis dari mancanegara diantaranya Swiss, Jerman dari grup Bergeund Meer Germany, yang sudah berkunjung di tempat ini. Sebelumnya museum yang memiliki koleksi utama bakul dari bahan rotan dan bambu tahun 1936, Setrika dari batu tahun 1917, kukuran (alat mengupas kelapa) tahun 1947, lumping kayu tahun 1945 dan nampan kayu tahun 1942, dengan jumlah koleksi museum sebanyak 280 buah ini bernama Hargodumilah. Museum ini diresmikan pada 1 September 2012 oleh Dinas Pariwisata. (omc)

.

Bagikan Berita