INILAH.COM, Jakarta – Pemberian air susu ibu (ASI) memang yang terbaik. Namun, jika ASI telah kurang atau tidak keluar sama sekali, seorang ibu bisa memberikan susu formula. Lantas, kapan dan bagaimana hendaknya susu formula itu diberikan? ASI adalah merupakan makanan terbaik untuk bayi dan anak. Tetapi menjadi masalah bila anak tidak dapat mengkonsumsi ASI dengan cukup karena berbagai kondisi dan keadaan. Penggunaan PASI (Pengganti ASI) menjadi alternatif yang tidak dapat dihindarkan. Orang tua sering dihadapkan pada masalah pemilihan jenis susu formula yang tepat dan baik untuk bayi. Masalah ini diperumit dengan semakin banyaknya susu formula yang beredar di pasaran. Informasi tentang pemahaman pemilihan jenis susu semakin banyak didapatkan, baik dari dokter, sales promotion di supermarket, iklan di media cetak dan elektronik, brosur atau dari pengalaman ibu lainnya. Pemilihan susu terbaik bagi anak harus dilakukan secara cermat dan teliti. Susu merupakan makanan bayi dan anak yang dikonsumsi setiap hari dalam jumlah banyak dan jangka panjang. Bila susu tersebut tidak cocok bisa menimbulkan gangguan tumbuh kembang yang terjadi terus menerus dalam jangka panjang. Memang, sebagian besar susu formula berbahan dasar susu sapi. tetapi seperti dikutip dari Mayo Clinic, susu formula sebenarnya terdiri dari tiga bahan utama yaitu, berbahan dasar sapi, kedelai dan protein hidrolisat. Selain itu perhatikan pula enam bahan utama lainnya yang terdapat di dalam susu formula, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan nutrisi lain yang merupakan zat makro dan mikro nutrien. Secara umum semua susu formula yang beredar secara resmi di suatu negara kandungan gizinya sama. Karena mengikuti standard RDA (Recomendation Dietery Allowence) dalam jumlah kalori, vitamin dan mineral harus sesuai dengan kebutuhan bayi dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal. Penggunaan apapun merek susu sapi formula yang sesuai kondisi dan usia anak selama tidak menimbulkan gangguan fungsi tubuh adalah susu yang terbaik untuk anak tersebut. Strategi pemberian susu formula Susu formula di bagi dalam dua golongan usia, yaitu susu formula awal, biasanya diberikan untuk bayi usia 0-6 bulan, yang tidak dapat disusui oleh ibu. Sedangkan susu formula lanjutan untuk bayi berusia 6-12 bulan. Mengapa dibedakan? Penyebabnya adalah karena kandungan gizi jenis susu formula tersebut disesuaikan dengan kemampuan pencernaan, juga kebutuhan nutrisi pertumbuhan anak . Selewat usia bayi, susu formula bukan lagi merupakan pengganti ASI tetapi suplemen atau pelengkap makanan yang berfungsi membantu pertumbuhan anak. Yang perlu dipahami, kebutuhan zat gizi masing-masing golongan usia anak adalah berbeda. Ada golongan usia 0-1 tahun, 1-3 tahun, 3-5 tahun dan 6 tahun ke atas. Apabila Anda ingin memberikan susu formula kepada bayi, sebaiknya Anda bertanya kepada dokter tentang susu formula yang baik bagi bayi Anda. Walau apa pun jenis susu formula yang Anda gunakan, pastikan Anda membaca labelnya dengan teliti. Teliti juga pada tarikh luputnya setiap kali membuat pembelian. Jangan sampai anda membeli susu yang sudah kedaluwarsa. Dalam pemilihan susu, pertimbangan utama bukan terletak pada susu apa yang disukai anak. Meskipun susu tersebut disukai anak, tetapi bila menimbulkan banyak gangguan fungsi dan sistem tubuh, maka akan menimbulkan banyak masalah kesehatan bagi anak. Semua susu formula yang beredar di Indonesia dan di dunia harus sesuai dengan Standar RDA (Recommendation Dietary Allowance). Standar RDA untuk susu formula bayi adalah jumlah kalori, vitamin, dan mineral harus sesuai dengan kebutuhan bayi untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal. Dengan kata lain, apapun merek susu formula sesuai usia anak selama tidak menimbulkan gangguan fungsi tubuh adalah susu yang terbaik untuk anak tersebut. Susu terbaik harus tidak menimbulkan gangguan saluran cerna seperti diare, muntah, atau kesulitan buang air besar. Susu yang cocok tidak akan menimbulkan gangguan lainnya seperti batuk, sesak, gangguan kulit dan sebagainya. Penerimaan tubuh setiap anak terhadap susu sangat berbeda. Anak tertentu bisa menerima susu A, tetapi anak lainnya bila minum susu A terjadi diare, muntah atau malah sulit buang air besar. Gangguan akibat ketidakcocokan susu formula bisa timbul karena reaksi cepat atau timbulnya gejala kurang dari delapan jam. Pada reaksi lambat atau gejala baru timbul setelah lebih dari delapan jam, atau kadang setelah minum susu 5 atau 7 hari baru timbul keluhan. Tanda dan gejala ketidakcocokan susu formula atau alergi susu hampir sama dengan alergi makanan. Gangguan itu dapat mengganggu semua organ tubuh terutama pencernaan, kulit, saluran napas dan organ lainnya. Pengaruh ketidakcocokan anak terhadap suatu susu formula bisa disebabkan karena reaksi simpang makanan, reaksi alergi, atau reaksi nonalergi. Alergi susu sapi adalah suatu kumpulan gejala menyangkut banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap susu sapi. Alergi terhadap susu formula yang mengandung protein susu sapi merupakan suatu keadaan seseorang memiliki sistem reaksi kekebalan tubuh yang abnormal terhadap protein dalam susu sapi. Sistem kekebalan tubuh bayi akan melawan protein yang terdapat dalam susu sapi sehingga gejala-gejala reaksi alergi pun akan muncul. Reaksi nonalergi atau reaksi simpang makanan yang tidak melibatkan mekanisme sistem imun dikenal sebagai intoleransi. Intoleransi ini bisa terjadi karena ketidakcocokan beberapa kandungan di dalam susu formula/kandungan protein susu sapi (kasein), laktosa, gluten, zat warna, aroma rasa (vanila, coklat, strawberi, madu dll), komposisi lemak, dan kandungan DHA. [mor]

Bagikan Berita